Directors’ Statement

Anggun Priambodo

Film ini untuk bangsa saya. Bangsa yang subur, gemah ripah loh jinawi namun 10 tahun rupanya belum cukup untuk mengobati segala yang terjadi. Saya berbagi cerita dengan teman-teman mengenai apa dan bagaimana tragedi Mei 98 di mata kita semua. Mari membangun kembali bangsa yang elok ini.

I dedicate this film to my nation. A great and prospereous nation although ten years is not enough to heal what has happened to this country. I’d like to share a story with other people about what and how what happened in May’98 affecting us all. Let’s put this country back to its feet.

Ariani Darmawan

Perempuan Cina Indonesia telah lama menjadi korban di tanah airnya sendiri, dan puncaknya terjadi pada peristiwa Mei 1998. Korban maupun publik tidak pernah berani menggugat, dan perkara pun dianggap selesai. Dalam Sugiharti Halim, seorang perempuan Cina Indonesia bercerita mengenai segala konvensi sosial maupun kekotoran politik yang telah membungkamnya selama ini.

Indonesian Ethnic-Chinese women have long been victims in their own country, which culminated in the May 1998 incident. Neither the victims nor the public have the audacity to make a claim, and the case was considered closed. In Sugiharti Halim, a Chinese-Indonesian woman tells about all the social convention and political corruptness that has kept her mouth shut all this time.

Edwin

Bekas luka identik dengan ingatan akan rasa sakit. Lebih dari itu, bekas luka dapat menjadi pemicu yang mengingatkan kita pada banyak kejadian yang pernah kita alami sepanjang hidup. Kenangan itu bisa menyenangkan, bisa juga tidak. Banyak emosi yang tersimpan di dalam bekas luka. Kita akan marah bila melupakan kisah di balik terjadinya luka itu. Hidup juga bisa jadi membosankan bila kita tak memiliki bekas luka apapun di tubuh kita. Persis seperti perjalanan juga film, bekas luka akan selalu menjadi gambaran dari kehidupan manusia. Sejak Mei 1998, kita telah membawa bekas luka selama 10 tahun. Sebuah bekas luka yang tak akan bisa kita lupakan. Sebuah bekas luka yang menggugah emosi. Sebuah bekas luka yang seolah memastikan rasa kemanusiaan kita selalu hidup. Trip to the Wound mengisahkan sebuah perayaan tentang hakekat menjadi manusia.

A wound is identical with a memory of pain. Moreover, a wound can trigger our memory to the things we have been through in our lives. Good things and otherwise. There is a lot of emotion in a wound. We will get upset if we forget the story that shapes the wound. Life can also be boring if we don’t have any kind of wound on our body. Like a trip, or a film, a wound will always be a mirror to someone’s life. Since May 1998, the wound has stayed with us for 10 years. A wound we can never forget. A wound that opens an emotional recollection. A wound that seems to assure us that our humanity is still with us. Trip to the Wound is a celebration of what it means to be human.

Hafiz

Bagaimana kita membaca bangsa? Bagaimana kita membaca sebuah generasi? Bagaimana kita membaca peristiwa? Bagaimana kita membaca trauma? Bagaimana kita membaca memori? Bagaimana kita membaca sepuluh tahun perubahan Indonesia? Saya yakin hanya film yang bisa membacanya dengan lebih jernih. Karena di situ ada rekaman visual, rekaman audio, rekaman situs, rekaman manusia yang memberikan peluang kepada siapapun untuk membacanya dengan lebih jernih.

How do we read a nation? How do we read a generation? How do we read an incident? How do we read trauma? How do we read memories? How do we read 10 years of change in Indonesia? I am certain that only film can read them more clearly. Because it is a visual and audio record, a site record, a human record, which gives anyone a chance to read more clearly.

Ifa Isfansyah

Buat saya peristiwa Mei 1998 adalah sebuah kenangan Setelah peristiwa yang begitu besar, dan sebagian dari kita—seperti halnya saya, hanya mampu membayangkan apa yang terjadi pada para korban, kerap saya bertanya-tanya bagaimana para korban ini bisa melanjutkan hidup mereka? Bisakah seseorang melarikan diri dari kenangan buruk? Hal ini lalu saya coba ceritakan melalui Happiness Morning Light. Film ini berangkat dari sebuah peristiwa nyata yang bertolak dari peristiwa Mei itu.

To me, the May 1998 incident is a memory. After such a huge incident, and due to the fact that some of us (like me) can only imagine what happened to the victims, I often wonder how the victims can carry on with their lives. Can one escape such a monstrous memory? I try to put this into a story in Happiness Morning Light. The film embarks on a real fact, based on the May incident.

Lucky Kuswandi

Sejak reformasi, Imlek di “nasionalisasikan” sebagai sebuah hari raya. Pada kalender nasional pun warna hari perayaan Imlek resmi menjadi merah. Ini dianggap sebagai suatu bentuk permintaan maaf pemerintah terhadap kaum Cina yang hingga tahun 1998 keberadaannya seolah tak ada. Tetapi apakah dampak dari nasionalisasi Imlek ini, terutama terhadap kaum Cina generasi sekarang, termasuk saya? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pembuatan film saya, A Letter of Unprotected Memories.

Since the Reform, Imlek is “nationalized” as a holiday. National calendars turn the dates of the Imlek into red numbers. This is considered as an apology from the government to the Ethnic-Chinese, who, up until 1998, were practically nonexistent. But what is the impact of this so-called nationalization, especially for the current generation of Ethnic-Chinese, including me? This question is what my film, “ A Letter of Unprotected Memories,” is based on.

Otty Widasari

Mentemakan waktu sama dengan bicara tentang sejarah. Sejarah yang paling dikenali oleh seseorang pastilah sejarah tentang dirinya sendiri. Keberadaan seorang manusia tidak akan terlepas dari sejarah peristiwa dan tempat dia berdiri. Di mana seseorang harus berjalan, berkonfrontasi ataupun berjabat tangan dengan sejarah yang dilewatinya kemarin.

To choose ‘time’ as a theme equals to talking about history. The history that one is most familiar with should be a history of his/her own. The existence of a human being cannot be separated from the history from which he or she stands, when he has to walk by, confronts or makes amend with the history that he just left by yesterday.

Steve Pillar Setiabudi

Setelah Mei ‘98, saya menunggu-nunggu kejadian yang lebih besar yang berdampak positif pada kehidupan kita semua. Dalam bayangan saya, cukuplah waktu beberapa tahun setelah Mei ’98 itu untuk mengungkap semua kebusukan negara, Suharto dan kroninya diadili, dan negara melayani rakyatnya hingga semua bahagia sejahtera. Rupanya anggapan ini sungguh naïf. Sadar akan kenaifan itu, kerja panjang selama 10 tahun ini belumlah cukup. Partisipasi dalam proyek film ini adalah proses saya dalam membantu mempercepat terwujudnya cita-cita gerakan-gerakan apapun siapapun yang menuju kebaikan bersama.

After May 1998, I have been waiting for a much bigger incident that can have a positive impact on us all. In my head, a few years after the incident are enough to unveil all the country’s corruptness, to put Soeharto and his men on trial, and to serve the Indonesian people so that all of us can live in prosperity. This turns out to be a terribly naïve notion. Realizing that, the long, 10-year work is not enough. This film project is my process in helping accelerate whoever and whatever movements that aim for a collective good.

Ucu Agustin

Reformasi di mata saya adalah sebuah perjuangan yang tak ada hentinya. Perjuangan menumbangkan penguasa Orde Baru, ternyata adalah langkah awal dari perjuangan menindaklanjuti amanat serta cita-cita reformasi. Dan dalam prosesnya, perjuangan tersebut banyak menimbulkan ironi dan terlihat tak membuahkan hasil. Tapi meski begitu, saya yakin masih ada orang-orang yang percaya bahwa reformasi bisa dilakukan asalkan kita tidak lupa pada peristiwa yang membuat sejarah, terluka.

To me, Reform is a never-ending struggle. The attempt to topple the New Order regime is apparently a first step of a struggle to follow up the goal of the Reform. In the process, the struggle leads to ironies and futility. Nonetheless, I am sure that there are people who believe that Reform is not an impossible dream, as long as we are not forgetting the incident that wounded history.

Wisnu Suryapratama

1998, buat saya adalah tahun yang menanamkan berjuta idealisme dan ambisi untuk melakukan perubahan. Waktu itu teriakan revolusi dan kepalan tinju memenuhi udara republik ini. Pemberontakan disiapkan dan darah mengalir dan waktu berlalu… dan kini saya seperti ribuan bekas demonstran adalah mantan demonstran yang terhimpit kekecewaan tak berujung dan realitas kehidupan. Seperti kata Proximo dalam Gladiator, “We are nothing but shadow and dust…”.

1998 was the year of idealism. After all those fights and blood shed the time has passed and now I, along with thousands ex-demonstrators had to swallow a bitter pill. Almost like what Proximo in the film Gladiator expressed, “We are nothing but shadow and dust..”.


One Response to “Directors’ Statement”

  1. saya mau bertanya kepada saudara Steven Pillar Setiabudi.
    dalam membuat filmnya “Sekolah Kami, Hidup Kami / Our School, Our Lives”, apakah saudara benar-benar bertindak objektif dalam mencari informasi seputar sekolah kami, ataukah saudara hanya sekedar fasilitas bagi kepentingan satu pihak, mengingat kami selaku pihak sekolah merasa tidak pernah memberikan informasi kepada saudara. ingat, kebenaran atas suatu fakta harus melibatkan semua pihak yang berkaitan.
    kami sendiri sudah jenuh dengan tekanan pihak yang “berkuasa” di sekolah kami saat ini, yang tega memanfaatkan siswa untuk kepentingan pribadinya, yang tega melakukan fitnah terhadap kepala sekolah pada saat itu, yang tidak memikirkan dampak dari tidakannya bagi hidup kami dan sekolah kami ini. tolonglah, dengan segala kerendahan hati, berikanlah informasi yang benar-benar akurat bagi penonton film saudara.
    saat ini, orang-orang dzalim-lah yang menguasai jalur informasi di sekolah kami. kami, orang-orang yang tahu persis kebenarannya, terpaksa tunduk kepada mereka.
    terimakasih

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: