Arsip Media

Yang Menolak Lupa

Eric Sasono untuk Majalah Tempo 2 Februari 2009

Kapan lagi bisa foto di Jalan Thamrin bersama panser?”
Ini diucapkan seorang perempuan dalam video yang di­buat Anggun Priambodo di dalam salah satu fragmen berjudul Di Mana Saya? yang menja­di pembuka bagi film 9808: Anto­logi 10 Tahun Reformasi. Film ini adalah sebuah film kompilasi karya 10 sutradara muda Indonesia yang hanya diputar di kalangan terbatas di Indonesia dan (karena itu) tak mendapat publikasi luas. Di Rotterdam, Belanda, film itu diputar dalam Festival Film Internasional Rotterdam 2009.

Film 9808 adalah sebuah proyek melawan lupa. Prima Rusdi, penggagas proyek ini, mera­sa gemas bahwa tak ada film yang mencatat peristiwa seputar reformasi dengan pantas. Lantas, berbekal semangat dan dana dari kantong pribadi para kontributor film ini, jadilah 9808 sebagai sebuah inisiatif dari generasi yang turut melahirkan reformasi itu.

Kompilasi ini jauh dari keinginan menjadi ensiklopedis atau obyektif. Kumpulan karya ini adalah catatan personal. Lihat Wisnu Kucing dan Otty Widasari yang bercerita tentang keterlibatan mereka sebagai mahasiswa yang menduduki gedung parlemen pada 1998. Dengan pendekat­an sama sekali berbeda, keduanya mencatat bahwa peristiwa itu adalah peristiwa personal. Ucu Agustin memperluas rentang waktu dan ca­kupan agenda gerakan mahasiswa itu dengan menyajikan Yang Belum Usai, cerita tentang Sumiarsih yang sudah 10 tahun mencari tahu siapa pembunuh anaknya—mahasiswa bernama Wawan—dalam peristiwa yang dikenal sebagai peristiwa Semanggi II.

Persoalan etnis Cina mendapat porsi besar dalam kompilasi ini. Lima dari 10 karya sedikitnya bercerita tentang orang Cina dan persoalan mereka. Ariani Darmawan mengajukan humor yang jail pada Sugiharti Halim ketika sang tokoh mempertanyakan kebijakan asimilasi Orde Baru yang berdampak pada namanya. Lucky Kuswandi mencoba lebih reflektif dengan mendadar­kan ikon-ikon budaya Cina yang lama tak tampil pada masa prareformasi. Ikon-ikon itu berasal dari kenang­an masa lalu, dan Lucky menggambarkan, dalam Letter to Unprotected Memories, betapa tak terlindunginya kenangan itu.

Edwin menyumbangkan A Trip to the Wound, sebuah kisah tentang seorang perempuan muda yang percaya bahwa luka pasti punya ceritanya sendiri. Dalam penggambaran yang mengganggu, Edwin menggambarkan luka sang perempuan itu berada di wilayah privat sehingga tak terlihat. Usaha untuk melihat luka itu adalah intrusi terhadap wilayah pri­badi itu sekali lagi. Dengan menggambarkan perempuan itu sebagai seorang etnis Cina, Edwin menginsi­nuasi: apakah luka perempuan itu adalah luka bangsa ini yang tak pernah dikunjungi lagi karena setiap kunjungan terhadapnya akan me­ngorek kembali luka itu?

Sebuah karya menarik ditampilkan oleh Hafiz dalam Bertemu Jen. Hafiz mencoba ”bermain pemaknaan” dengan seorang aktivis teater bernama Jen Marais dengan memperlihatkan foto-foto dan bertanya kepada Jen mengenai kesannya se­sudah melihat foto itu. Dengan penggambaran ini, Hafiz berhasil memperlihatkan betapa cairnya makna sejarah dan betapa pentingnya negosiasi dalam pendefinisian sejarah itu. Film ditutup dengan karya Steve Pillar Setiabudi, Our School, Our Life, yang bercerita tentang pelajar sebuah sekolah menengah atas di Solo yang sedang bergiat membongkar dugaan korupsi yang terjadi di sekolah mereka.

Sebagai karya lepas, film-film dalam kompilasi ini mampu berbicara sendiri. Namun, dengan dikumpulkan, masing-masing karya memasuki wilayah percakapan yang sama sekali berbeda dan meluas.

Perumusan Identitas dan Penceritaan Baru?Catatan Akhir Tahun Film Indonesia 2008

Eric Sasono, kritikus film, menulis untuk Koran Tempo 28 Desember 2008

Jumlah produksi film Indonesia meningkat di tahun 2008 ini, sekitar 80 film dibandingkan 40-an pada tahun 2007. Minimnya ragam tema dan penceritaan masih menjadi persoalan utama. Horor dan komedi seks masih mendominasi film yang beredar, dengan sedikit kekecualian. Jika pada tahun 2007 kekecualian yang secara estetis patut dicatat tidak terlalu banyak, maka dengan jumlah yang meningkat di tahun 2008, catatan bisa dibuat untuk lebih banyak film. Tahun 2008 ditandai dengan eksplorasi tema dan cara tutur. Dalam soal tema, selain persoalan perempuan, tahun 2008 ditandai dengan tingginya kebutuhan membicarakan mengenai identitas. Dua perbincangan identitas yang muncul dengan nyata di tahun 2008 adalah Islam dan etnis Cina, serta sedikit film yang mengangkat tema perempuan.

Muatan Islam
Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo) menandai fase masuknya Islam ke dalam budaya pop. Mengulangi skripturalisme yang pernah dibawa oleh pahlawan seperti Rhoma Irama, AAC mengangkat tema dan persoalan kelas menengah Islam Indonesia dalam memecahkan problema roman mereka. Keberhasilan film ini menjadi salah satu film Indonesia peraih penonton terbanyak sepanjang masa, membuat gelombang pembuatan film-film dengan simbol Islam di dalamnya menjadi cukup banyak.

Namun muatan Islam muncul dari arah yang berbeda justru pada Laskar Pelangi (Riri Riza). Laskar juga mengandung verbalisme yang mirip dengan AAC, tetapi subyek yang diangkat sama sekali berbeda. Dengan latar belakang kehidupan anak-anak miskin yang ingin sekali bersekolah di pulau Belitong, Laskar Pelangi justru menampilkan harapan yang sebagiannya berasal dari etos Islam.

Representasi identitas Islam yang paling menarik justru muncul dari 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim) yang mengangkat kehidupan 3 orang anak pesantren. Dalam kisah keseharian anak-anak yang sedang mengalami coming of age ini, Nurman tidak melihat keislaman sebagai sebuah kategori pembeda dan penegas identitas, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketiga anak ini menemukan problem dan keterpesonaan pada berbagai hal seperti film, sex dan kesulitan hidup yang nyata yang membuat keimanan mereka harus berhadapan dengan itu semua. Berbeda dengan film-film Islam karya pasangan Asrul Sani – Chaerul Umam di masa lalu (Titian Serambut Dibelah Tujuh, Al Kautsar, Nada dan Dakwah), 3 Doa menampilkan tokoh-tokoh manusia biasa yang tak berambisi mengubah dunia atau mengambil peran penting dalam sejarah. Muslim dalam 3 Doa sudah merupakan bagian dari sejarah negeri bernama Indonesia ini.

Representasi Etnis Cina
Etnis Cina dalam film Indonesia kerap digambarkan sebagai sumber masalah. Namun film Indonesia pasca reformasi mencatat sikap yang lebih ramah. Misalnya Gie (Riri Riza, 2005), yang memperlihatkan semacam kepahlawanan etnis Cina dalam perubahan politik.

Posisi etnis Cina dalam perubahan politik biasanya menjadi korban, dan dua film Indonesia di tahun 2008 menampilkan representasi ini. Yang terpenting dari jajaran ini adalah May (Viva Westi) yang menggambarkan kisah cinta seorang gadis Cina dengan gadis Jawa di tengah pergulatan politik tahun 1998. Kisah cinta mereka harus terpisah dan sang gadis menjadi korban dari kerusuhan yang mengiringi perubahan politik besar itu.

Persoalan identitas yang lebih karikatural muncul dalam Kita Punya Bendera (Steven Purba) yang berlatar sebuah keluarga etnis Cina yang sedang mengalami persoalan ekonomi. Film yang ditujukan untuk keluarga ini berhasil mengangkat tema yang sensitif ini dengan kesegaran dan komentar sosial yang menarik. Sayang sekali film ini tak mendapat perhatian cukup dari penonton maupun media.

Dalam catatan yang cenderung personal dan tidak ensiklopedis, sepuluh orang sutradara muda di bawah nama Proyek Payung, mempersoalkan perubahan politik besar itu dalam 9808, Antologi Sepuluh Tahun Reformasi. Setidaknya 4 karya, 1) Chen Huang Gang (Ifa Ifansyah), 2) Trip to the Wound (Edwin), Sugiharti Halim (Ariani Darmawan) dan Letter to Unprotected Memories (Lucky Kuswandi) mempersoalkan etnis Cina sebagai korban kebijakan Orde Baru dan terkena implikasi langsung dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 itu.

Sementara dalam film ber-genre horor, latar belakang etnis Cina juga muncul dalam Karma (Allan Lunardi). Film ini sepenuhnya menceritakan mengenai sebuah keluarga Cina dan tradisi panjang mereka serta bagaimana kutukan terjatuh akibat tak dijalankannya tradisi dengan baik.

Perempuan
Tema tentang perempuan muncul dalam dua proyek Kalyana Shira Foundation. Perempuan Punya Cerita (Nia Dinata, Upi, Fatimah Ronny dan Lasja Fauzia) mengumpulkan 4 kisah berbeda dengan perempuan-perempuan yang diperdayai dan ditipu dalam sebuah dunia yang patriakal. Sedangkan pada Pertaruhan (Ani E. Susanti, Iwan Setiawan, Lucky Kuswandi dan Ucu Agustin) bercerita tentang perempuan-perempuan yang tak bisa mengendalikan tubuh mereka sendiri dan harus tak berdaya menghadapi kenyaaan tersebut. Kedua film ini lahir dari mekanisme pendanaan non-komersial, tapi tetap diputar di bioskop-bioskop komersial. Film yang memang dirancang dengan muatan kampanye ini cukup berhasil mengantar narasi yang kuat tanpa semata-mata menjadi film propaganda.

Penceritaan
Dari aspek penceritaan, beberapa film Indonesia tahun ini patut dicatat karena memberi alternatif penceritaan yang itu-itu saja. Berdiri paling depan di kelompok ini adalah Kantata Takwa (Eros Djarot dan Gotot Prakosa). Film yang dimulai syutingnya tahun 1990 itu akhirnya beredar tahun ini dan segera mendapat sambutan luar biasa. Film ini bisa digolongkan eksperimental dalam elemen naratifnya, menggabungkan antara dokumentasi konser dan workshop, stilisasi pembacaan puisi, ungkapan-ungkapan puitis, dan fragmen-fragmen fiktif. Dengan tema yang memperlihatkan sikap tegas seniman untuk tak mau tunduk pada kekuasaan, Kantata Takwa berhasil mengantarkan semangat yang besar kepada penonton yang berbeda dekade.

Jauh di bawah itu, dalam soal penceritaan, Fiksi. (Mouly Surya) merupakan salah satu film yang paling pantas dicatat tahun ini. Film yang memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik pada FFI 2008 ini telah mengangkat standar penceritaan film Indonesia. Film ini mengangkat karakter yang kompleks dengan latar belakang karikatur sosial yang juga kompleks. Dengan mengacu pada film-film bertokoh psikotik Jepang seperti film karya Sion Sono, Fiksi. berhasil memperlihatkan bahwa kompleksitas cerita bisa ditangani dengan baik dan berhasil menjadi film yang tetap menarik untuk diikuti.

Tradisi karakter kompleks juga tampak pada Mereka Bilang Saya Monyet (Djenar Maesa Ayu). Sebagaimana Mouly, Djenar juga memperlihatkan energi yang cukup besar untuk memindahkan dua cerpennya yang bleak ke dalam bentuk audio visual. Pemindahan ini tak seluruhnya sempurna, tetapi Djenar tetap berhasil mengantar sebuah karya audio visual yang sama mengganggunya dengan cerita pendeknya.

Sementara itu, di kubu film genre, masih ada film-film yang berhasil dengan pencapaian artistik. Setidaknya film Legenda Sundel Bolong (Hanung Bramantyo) berhasil mengantar sinematografi yang unik dan mengembalikan sifat dasar film horor: menakutkan. Pencarian Terakhir (Afandi Abdul Rahman) adalah sebuah film horor yang mencoba (dan lumayan berhasil) menampilkan hal yang berbeda dari horor kebanyakan.

Yang Sedang Terjadi
Eksplorasi tema bisa jadi dipicu oleh momentum 10 tahun perubahan politik yang tampaknya dimanfaatkan oleh para pembuat film, setidaknya oleh anak-anak muda di Proyek Payung yang membuat 9808 dan Dirmawan Hatta yang menulis May. Angka itu akhirnya membuat mereka merasa patut mencatat sesuatu yang menjadi bagian sejarah yang sedang mereka alami ini.

Referensi terhadap film Asia juga tampaknya menguat. Sekalipun sutradara lebih mapan seperti Hanung Bramantyo dan Riri Riza masih memperlihatkan gerakan kamera dan editing bergaya Hollywood, setidaknya Mouly mencoba gaya baru. Sedangkan kepolosan penyutradaraan Djenar dan Nurman Hakim menghasilkan cerita-cerita yang kuat. Cerita dan tema terkadang lebih mampu menghasilkan film yang lebih kuat ketimbang ketrampilan teknis.***

Dimuat di situs ini atas izin Eric Sasono, versi suntingannya diterbitkan Koran Tempo, 28 Desember 2008

JAFF Memutar Ulang Memori tentang Reformasi (Kompas Yogya, 8 Agustus 2008)

Jumat, 8 Agustus 2008 | 11:08 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Festival film tahunan Jogja NETPAC Asian Film Festival atau JAFF kembali digelar di Kota Yogyakarta pada 9-13 Agustus. Untuk kali yang ketiga, festival film ini mengajak masyarakat untuk merefleksikan perjalanan reformasi yang berlangsung di Indonesia.

Kuatnya embusan reformasi ini terasa dari film pembuka Kantata Takwa yang dibuat sekitar 1990, namun baru mendapat kesempatan diputar pertama kali tahun ini, 18 tahun kemudian. Film ini dibuat jauh sebelum era reformasi, saat rezim Soeharto masih berkuasa dengan segala kuasanya, kata Direktur JAFF Budi Irawanto, dalam jumpa pers di Yogyakarta, Kamis (7/8). Film ini mengisahkan tentang perjalanan dan pertunjukan kelompok musik Kantata Takwa yang sarat akan kritik sosial dan bisa dibilang musuh penguasa pada waktu itu. Film ini mencoba mengajak penonton merenungkan betapa reformasi yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa telah kehilangan gaung dan semangat awalnya. Kurator JAFF, Philipe Cheah, mengemukakan, film ini berusaha untuk memutar ulang memori penonton saat Soeharto masih berkuasa. Ketika rezim itu akhirnya berhasil digulingkan, Apakah tujuan reformasi itu sudah tercapai? ujar Cheah. Selain Kantata Takwa, sejumlah film yang diputar juga berusaha mengupas proses reformasi dari beberapa sudut yang berbeda.

Film berjudul 9808, misalnya, menampilkan perjalanan reformasi yang dilihat dari sudut pandang para pekerja film muda. Dalam rangka menunjukkan perubahan menuju kesempurnaan tercermin pada film revolusioner berdurasi 10 jam, The Death in the Land of Enchanthos, diputar untuk menunjukkan hal itu. Film garapan sutradara asal Filipina ini merupakan sebuah hasil revolusi digital yang menunjukkan bahwa perubahan juga membuat para pembuat film makin tak terbatas. Seperti tahun lalu, JAFF akan menyuguhkan film-film Asia, lokakarya, dan seminar di Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis Sagan, dan Bedog Art Festival. (IRE)

 

Membuka Dialog, Melawan Lupa”9808″, Antologi 10 Tahun Reformasi Indonesia

Oleh: Dewi Irma, Pikiran Rakyat

SEORANG ibu dengan rambut beruban itu menyajikan hidangan makan siang di rumahnya yang sederhana. Ada 3 orang di meja itu, yakni, ia, sang suami, dan salah seorang kerabat. Akan tetapi, peralatan makan yang terdiri atas piring, lengkap dengan sendok dan grapunya, disediakan sebanyak 4 buah. “Walau Wawan enggak ada, tetapi piring dan gelasnya selalu ada,” kata sang ibu, Sumarsih.

Sumarsih adalah ibu dari Wawan, atau Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Indonesia yang tewas pada korban berdarah Tragedi Semanggi 1, 10 tahun silam. Sejak kematian Wawan, Sumarsih tetap merasa Wawan selalu berada di sampingnya. Ia tak henti menuntut keadilan hingga kini. “Saya berjanji akan melanjutkan perjuanganmu,” ucap Sumarsih.

Itulah cuplikan drama dalam film pendek berjudul “Yang Belum Usai” karya sutradara Ucu Agustin. Film itu diputar bersama 10 film pendek lainnya dalam kompilasi bertajuk “9808? di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 28-29 Juni lalu. Atas nama program swadaya bernama “Projek Payung”, sejumlah pekerja film membuat karya berlatar belakang peristiwa Mei 1998, untuk memperingati 10 tahun reformasi. Rangkaian film itu diputar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Kuala Lumpur.

Kompilasi film pendek “9808” itu menunjukkan kisah yang variatif tentang peristiwa dan dampak Mei 1998 bagi bermacam orang dari berbagai latar belakang. Para sutradara mengekspresikan diri dalam beragam cara penuturan yang menarik. Anggun Priambodo melalui “Di Mana Saya?”, misalnya, mengungkap kisah sejumlah “orang biasa” tentang di mana diri mereka pada bulan Mei sepuluh tahun silam, melalui medium foto. Ada lagi Otty Widasari, lewat “Kemarin”, ia menelusuri cerita hari-hari kemarin dalam percakapan penuh tawa 3 orang sahabat, tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan pada Mei 1998 itu.

Film tentang reformasi pada akhirnya tak melulu menggambarkan demonstrasi di jalanan. Akan tetapi juga menyampaikan isu sosial yang sebelum reformasi dianggap “tabu”, seperti halnya persoalan etnis Cina. Dalam film “Sugiharti Halim”, Ariani Darmawan, lebih menyoroti arti sebuah nama dengan cara yang unik. Isu itu berkaitan dengan keberadaan Keppres Nomor 127/U/Kep/1996 yang mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia.

Masih dengan sudut pandang etnis Indonesia keturunan Cina, Lucky Kuswandi mengajak penonton menyimak tradisi Imlek, melalui film “A Letter of Unprotected Memories”. Selama 33 tahun perayaan Imlek sempat dilarang di Indonesia, sampai akhirnya semenjak reformasi bebas dirayakan dan menjadi hari libur nasional. Film ini menunjukkan cara bertutur yang menarik. Alih-alih menampilkan aliran sekuens gambar, film ini menyuguhkan gambar –dari mulai jeruk mandarin hingga barongsai, teks, dan tulisan. Tak ada musik, tak ada dialog, namun pesan yang disampaikan tetap kuat.

Ada lagi dokumenter kehidupan Wisnu “Kucing” Suryapratama, lewat “Catatan Seorang (Mantan) Demonstran”, yang menceritakan transformasi dirinya yang dulu aktivis, hingga kini yang menjadi ayah, suami, dan sosok pekerja yang pragmatis. Berbicara tentang gerakan mahasiswa sekarang, menurut dia, mahasiswa kini masih terpaku romantisme menurunkan Soeharto pada 1998. “Perubahan dan pemberdayaan masyarakat adalah tugas seluruh sektor. Bukan masanya lagi mahasiswa turun ke jalan, mahasiswa belajar saja yang baik,” begitu kira-kira kata Wisnu dalam film.

Film lain yang juga mencuri perhatian adalah “Sekolah Kami, Hidup Kami” karya Steve Pillar, yang berkisah tentang usaha sekelompok siswa SMU membongkar korupsi di sekolah mereka di Solo. Saat di kepala sebagian siswa, pekerjaan guru adalah mulia, namun di saat bersamaan mereka menemui kebobrokan perilaku panutannya. “Di dalam kelas, kami tetap hormat sebagai guru. Di luar, harus keras tanpa kompromi,” ujar Dermawan, Ketua OSIS yang membongkar kasus itu.

Dari mulai seorang ibu yang tetap “menghadirkan” putranya yang tewas, hingga upaya pelajar membongkar korupsi, terlihat konsep yang kuat tentang bagaimana peristiwa tetap perlu diingat, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, proyek “9808” ini merupakan upaya melawan lupa, dan berziarah kembali pada peristiwa sejarah yang mungkin (sengaja) masuk peti es. “Untuk membuka dialog tentang hal-hal yang dilupakan,” kata Prima Rusdi, koordinator Projek Payung. ***

kampus_pr@yahoo.com

Prima Rusdi: Satu dekade reformasi bisa tidak menghasilkan apa-apa

Ditulis oleh Andy Rahmatullah, Jurnal Footage
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan? Mengapa mereka membuat filem peringatan, yang biasanya hanya dilakukan oleh lembaga pemerintah dan bukannya organisasi seniman. Berikut adalah wawancara jurnal Footage dengan salah seorang penggagas dan koordinator Proyek Payung, Prima Rusdi.

Bagaimana proses terciptanya Proyek Payung dan siapa saja yang terlibat?
Terciptanya sangat tidak formal. Awalnya karena saya dan Hafiz sering ngobrol, juga dengan Edwin. Intinya seperti ada kesepakatan tidak tertulis bahwa kita menghormati cara kerja dan prinsip kenapa kita mengerjakan apapun yang kita kerjakan. Selain itu ada dinamika yang cukup sehat antara kami bertiga, kami tidak ‘nongkrong’ terus-menerus, hanya bertemu sesekali. Jadi ini pertemanan yang sebetulnya lebih mengacu ke kualitas daripada frekuensi nongkrong bareng. Saya bilang sehat karena masih ada ruang untuk bisa cukup objektif di antara kami bertiga. Artinya, tidak ada beban untuk selalu sepakat, atau selalu diplomasi. Di mana perlu berargumen, kami berargumen secara sehat. Nah, setelah Konfiden 2007, secara terpisah saya bicara dengan Hafiz dan Edwin, dan kami merasa sayang kalau pada peringatan 10 tahun Reformasi 2008, kami tidak mencoba mengerjakan sesuatu. ‘Sesuatu’ yang kami maksud adalah membuat rangkaian filem pendek dengan melibatkan teman-teman yang lain.

Apa alasan tragedi Mei 1998 diangkat menjadi tema proyek ini?
Satu hal yang jelas reformasi itu pernah menjadi titik balik kehidupan kita sebagai orang Indonesia. Jadi tak ada yang tidak terkena eforia reformasi sepuluh tahun lalu. Kami juga menilai ada peranan signifikan dari anak muda waktu itu. Tak ada catatan lain soal progresi reformasi kecuali masalah transisi tak berkesudahan, juga liputan media yang cenderung hanya menyorot masa transisi ini dari sudut pandang penguasa/elit politik. Dengan demikian, waktu satu dekade itu ternyata bisa berlalu begitu cepat, dan bisa saja tidak menghasilkan apa-apa.

Kenapa memilih diputar di Kineforum?
Kineforum sudah cukup berhasil meraih penonton di luar kawasan arus utama. Kineforum juga sudah terbiasa melihat filem tak hanya sebagai filem tapi sebagai sarana edukasi publik, sehingga diskusi dimungkinkan. Kami merasa, paling tidak untuk saat ini, “9808” tidak tuntas setelah filem kelar ditonton, tapi setelah ada diskusi soal filem ini dengan penonton/publik. Alasan lainnya adalah, karena filem yang kita putar tidak perlu melalui Lembaga Sensor Film (LSF).

Ada berapa peserta yang ikut serta dalam proyek ini?
Sepuluh orang sutradara, yang biasanya akan melibatkan tim mereka saat produksi filem mereka. Dan, karena Proyek Payung bukan organisasi, maka kami menganggap rekanan produksi filem-filem para teman-teman sutradara juga termasuk partisipan proyek ini, karena tanpa mereka filem tidak akan kelar, apalagi kami tidak memodali secara finansial.

Mengapa tema rasial banyak mewarnai sebagian filem di kompilasi ini?
Dari sepuluh filem sebetulnya yang langsung bicara soal diskriminasi/eliminasi kultur secara terstruktur oleh pemerintah hanya dua filem: “Sugiharti Halim” (Ariani Darmawan), dan “A Letter of Unprotected Memories” (Lucky Kuswandi). Dua filem ini menawarkan sudut pandang etnis Indonesia keturunan Cina. Isu Cina yang lain muncul di filem “Di mana Saya?” (Anggun Priambodo). Kenapa isu ini terasa dominan? Saya pikir karena ada sejumlah isu yang sebetulnya benang merahnya ‘soal Cina’ tapi belum pernah dibicarakan secara gamblang. Seingat saya, belum pernah ada penyebutan kata Cina yang diucapkan begitu jelas di dalam filem Indonesia, karena selama ini kata Cina dianggap tabu.

Bagaimana proses kurasi yang dilakukan dalam antologi filem-filem ini?
Pengkurasian sebetulnya telah kami lakukan saat mencoba menyusun nama-nama peserta. Arahan yang kami berikan adalah daftar acuan tiga lembar yang merupakan diskusi bolak-balik via e-mail antara saya, Hafiz, dan Edwin. Kami sepakat untuk tidak membatasi pendekatan estetika/gaya bertutur dari teman-teman peserta, bahkan isu pun tak kami batasi asalkan masih relevan.

Harapan apa yang ingin disampaikan?
Harapan kami adalah mencoba membuka dialog melalui antologi ini, saya bahkan melihat keikutsertaan kami dalam antologi ini lebih sebagai warganegara bukan pembuat filem/pekerja seni.

Apa Proyek Payung akan mengusung tema seperti ini di masa mendatang?
Sejujurnya, sejak awal kami memposisikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran bersama, untuk mencoba menjajagi kemungkinan lain dalam menyuarakan suatu isu dengan segala keterbatasan yang ada baik waktu, maupun (apalagi) dana, dan apa yang terjadi bila ada sejumlah orang yang sebetulnya bukan dari satu kelompok, mencoba mencapai tujuan yang sama. Jadi, belum ada rencana apakah proyek ini akan berlangsung lagi atau tidak. Kami bahkan senang kalau ada orang lain yang mencoba melakukan hal yang sama seperti yang kami coba dengan proyek ini.

Bagaimana respon penonton setelah mereka menyaksikan antologi sepuluh filem ini?
Respon penonton beragam. Meski yang cukup melegakan, umumnya mereka menganggap antologi ini penting. Keragaman cara tutur dalam antologi ini berisiko. Jarang ada penonton yang bilang mereka suka semua filem, namun setiap orang punya kemungkinan ‘relate’ dengan filem yang berbeda. Kelompok umur muda (remaja) cenderung suka dengan filem “Di Mana Saya?” dan “Trip to the Wound”. Sementara kelompok yang lebih dewasa (25 tahun lebih) biasanya suka “Sugiharti Halim” dan “Sekolah Kami Hidup Kami”. Kelompok 30 tahun ke atas merespon “Yang Belum Usai”. Tapi, satu hal menggembirakan adalah, Kineforum mencatat kenaikan ‘kualitas’ penonton dalam arti kata, “9808” berhasil mendatangkan kelompok penonton di luar pengunjung yang rutin.

Akankah proyek selanjutnya merekrut kalangan yang bukan sineas?
Kami belum merencanakan proyek selanjutnya karena saat ini masih separuh kelar, sejumlah pemutaran masih akan dilangsungkan di beragam tempat, tidak hanya di Jakarta.[]

Catatan Kecil Reformasi

Sabtu, 17 Mei 2008
Oleh: Tito Sianipar

TEMPO Interaktif, : Ibu dengan rambut beruban itu menghidangkan penganan makan siang di rumahnya yang sederhana. Di meja, hanya ada tiga orang: dia, suaminya, dan seorang kerabatnya. Namun, piring yang disediakan ada empat, lengkap dengan sendok dan garpunya. “Walau Wawan nggak ada, piring dan gelasnya selalu ada,” kata si ibu, Sumarsih.

Wawan yang ia maksudkan adalah putra sulungnya, Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Indonesia yang tewas pada peristiwa berdarah Semanggi, 10 tahun silam. Sejak kematiannya, Sumarsih selalu merasa Wawan berada di sampingnya. “Saya berjanji akan melanjutkan perjuanganmu,” ucap Sumarsih, bersimpuh di makam sang putra.

Drama itu termaktub dalam film pendek berjudul Yang Belum Usai karya sutradara Ucu Agustin. Film itu diputar bersama 10 film pendek lainnya dalam sebuah rangkaian yang diberi tajuk “9808” di Kineforum Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa lalu.

Film yang diputar dalam rangka memperingati 10 tahun reformasi itu bercerita tentang bagaimana menyikapi apa yang terjadi dalam 10 tahun terakhir, apa saja perubahan yang dialami, dan sudut pandang masyarakat awam akan perubahan itu.

Film yang bercerita cukup lugas berjudul Sugiharti Halim karya Ariani Darmawan. Dengan cara penyajian bertutur oleh Sugiharti (diperankan oleh Nadia), film ini mengangkat soal diskriminasi yang dialami oleh masyarakat keturunan Tionghoa, terutama dalam hal keharusan mereka mengubah namanya menjadi nama Indonesia.

Film ini, walau berisi tuturan seorang Sugiharti, lebih lengkap unsur filmnya. Selain adegan kencan, film ini menyuguhkan adegan ia diinterogasi aparat hingga soundtrack musik berbau pemberontakan yang menjadi penutup film. Hal ini tidak ditemui pada beberapa film pendek lainnya, seperti Bertemu Jen, yang hanya berisi adegan wawancara, atau Sedang Apa Saya Saat Itu, yang berisi tuturan dengan cuplikan foto-foto sekitar kejadian pribadi masing-masing pada 13 Mei 1998.

Hal lain yang mencuri perhatian adalah film semidokumenter Sekolah Kami, Hidup Kami, yang berkisah tentang usaha sekelompok siswa membongkar korupsi di sekolah mereka di Solo. Padahal, di kepala sebagian siswa, pekerjaan guru adalah mulia dan tidak mungkin korupsi. “Di dalam kelas, kami tetap hormat sebagai guru. Di luar harus keras tanpa kompromi,” ujar Dermawan, Ketua OSIS yang membongkar kasus itu.

Menurut koordinator penyelenggara, Prima Rusdi, film-film tersebut merupakan rekaman arti reformasi dari sudut yang berbeda dengan yang dihadirkan oleh media dan penguasa. “Ini hanya catatan kecil dari kami,” ujarnya. Selain di Jakarta, film “9808” yang menghadirkan teks berbahasa Inggris ini masih akan diputar di Yogyakarta (15 Mei), Semarang (25-27 Mei), Bandung (28-29 Mei), dan Kuala Lumpur (19-20 September).

Sebuah Kompilasi Melawan Lupa

Rabu, 14 Mei 2008 11:04 WIB

Sepuluh tahun lalu di bulan Mei, Jakarta adalah medan perang. Kerusuhan massal terjadi di seluruh bagian kota.

Aksi penjarahan, kekerasan, dan demonstrasi mahasiswa, adalah bagian dari panggung peristiwa Mei 1998. Ujungnya, mungkin, sebuah perubahan.
Tapi benarkah? Pertanyaan itu juga yang tampaknya coba dijawab oleh 9808, kompilasi 10 film pendek untuk memperingati 10 tahun Reformasi.

Sejumlah pekerja film dari berbagai latar belakang (dokumenter, feature, film pendek) serta musisi dan pekerja seni lainnya, dengan biaya masing-masing, menyiapkan sebuah film pendek sebagai upaya melawan lupa terhadap apa yang terjadi satu dekade lalu.

Pemutaran perdana kompilasi ini dilakukan kemarin malam di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acaranya sebenarnya tak terbatas untuk undangan saja, tapi juga untuk awam. Tapi yang datang melebihi kapasitas, sampai ada yang tak kebagian tiket.

Koordinator dan penggagas kompilasi ini adalah penulis skenario Prima Rusdi, sutradara film pendek Edwin dan sutradara Hafiz. Sutradara yang filmnya ditampilkan di sini ada Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Ifansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Steven Pillar Setiabudi, Ucu Agustin, dan Wisnu Suryapratama.

“Kita terbuai dengan masa transisi. Bukan sesuatu yang disengaja. Sekarang fokusnya bukan lagi menyalahkan sistem atau infrastruktur. Tapi bagaimana caranya bisa memulai pemberdayaan masyarakat,” kata Prima tentang proyek film pendek ini.

Menurut Prima, kompilasi film pendek ini bukan hanya tentang perubahan atau aktivitas yang terjadi pada anak muda kota besar. Benar.

Tapi tak bisa dimungkiri, sudut pandang anak muda Ibu Kota–yang kala itu masih menjadi mahasiswa–cukup sering mendapat porsi di kompilasi ini.

Mahasiswa sekarang
Ada dokumenter kehidupan dari Wisnu Suryapratama. Lewat Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran, ia menceritakan siapa dirinya dulu–salah satu aktivis Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia–dan membandingkannya dengan sekarang, terutama sebagai ayah, suami dan sosok yang menjadi semakin pragmatis.

Dari aktivis yang turun ke jalan dan berdemo sebagai sebuah cara untuk menuntut perubahan pada 1998, ia sekarang menjadi pekerja film yang mengendarai Volvo.

Ia tak bisa lepas dari nada bangga ketika membandingkan gerakan mahasiswa sekarang dan gerakan mahasiswa di masanya dulu. Menurutnya, mahasiswa saat ini masih melihat pada 1998, mereka mampu menurunkan Soeharto dan berharap bisa melakukan sesuatu dengan kaliber sama. “Tapi bukan itu masalahnya. Sekarang waktunya pemberdayaan masyarakat. Bukan masanya lagi mahasiswa yang turun, mereka ya belajar saja,” kata Wisnu dalam film.

Yang juga menarik, istrinya adalah anggota DPRD termuda untuk Kabupaten Serang. Aktivismenya dulu, ia harapkan tertular ke istri dan anaknya. “Pokoknya istri gue bukan wakil rakyat yang cuma makan uang rakyat,” katanya.

Dia mengakui, aktivismenya sudah jadi prioritas kesekian setelah kerja dan mencari nafkah untuk keluarga.

Sebuah cerita keseharian lain juga tertuang di Kemarin karya Otty Widasari yang membingkai satu dekade dalam catatan pemasukan dan pengeluaran keuangan. Juga lewat percakapan dengan teman-teman dekatnya tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan pada Mei 1998 itu.

Dari yang menjadi reporter magang, sekadar ikut-ikutan berdemonstrasi di tengah kesibukan orang muda metropolis lainnya, atau yang benar-benar serius berdemonstrasi sampai akhirnya menjadi ibu, istri dan pekerja.

Tak bisa dihindari, pada cerita-cerita otobiografis, nadanya bisa sedikit terpleset jadi terlalu memuaskan diri sendiri. Tapi ia tetap realitas. “(Harapannya) ada catatan penting dalam sepuluh tahun terakhir yang membuat kita berpikir lagi waktu di bus pulang dari sini atau di mobil. Membuat orang memiliki catatan-catatan di kepalanya,” kata Hafiz.

Rencananya, kompilasi ini akan terus diputar di Kineforum (studio 1 TIM 21) sampai 20 Mei mendatang pada dua pilihan waktu, 17.30 dan 19.30 sebelum berpindah ke kota-kota lain. Info lengkapnya ada di https://9808films.wordpress.com

isyana@mediaindonesia.co.id

Melawan Lupa Tragedi Mei

(blog. bukukita.com)

Film menjadi media paling efektif untuk mengingat kembali apa yang telah berlalu. Termasuk kenangan tragis yang terjadi 10 tahun lalu di Indonesia, tragedi Mei 1998, Semanggi I dan Semanggi II. Rangkaian film pendek yang dibuat oleh 10 pekerja film dari beragam latar belakang (dokumenter, feature,film pendek, dll), musisi dan pekerja seni lainnya ini bergabung secara swadaya untuk memeringati satu dekade reformasi (1998-2008).

10 film pendek yang dilatarbelakangi oleh peristiwa Mei ’98 ini ditujukan sebagai upaya membuka dialog terutama dengan kalangan muda (pelajar/mahasiswa, umum) mengenai penolakan untuk melupakan sejarah serta pemberdayaan masyarakat untuk menyampaikan sesuatu (dalam hal ini melalui medium audio visual).

ìDalam rekaman film ini kita dapat melihat dampak dari gerakan sosial demonstrasi mahasiswa, kerusuhan, penjarahan serta pembakaran ibu kota serta pelengseran mantan Presiden Soeharto tentang penuntutan reformasi di mana-mana. Ada orang yang cuek terhadap tragedi tersebut dan ada pula yang tidak ingin melupakannya,î ungkap Prima Rusdi, penggagas film pendek bersama tentang jejak reformasi 9808 di Kineforum, Studio 1 Teater Ismail Marzuki, (13/5).

Lanjut penulis skenario Garasi (2006), Banyu Biru (2005), Eliana-Eliana (2002) dan salah satu penulis cerita “Ada Apa Dengan Cinta”(2002) ini, bersama-sama dengan sutradara Edwin, dan perupa Hafiz, berinisiatif untuk mengumpulkan pekerja film dalam kompilasi program 9808 yang secara khusus menceritakan kembali tentang peristiwa Mei 1998. Terlebih banyak di antara mereka yang baru pertama kali melakukan pemutaran bersama dan bertema sosial. Apalagi rangkaian film ini akan diputar di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang dan Kuala Lumpur.

Anggun Priambodo, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2002, jurusan Desain Interior ini menyuguhkan ìSedang Apa Saya Saat Itu?î. Pembuat klip musik Nidji ‘Arti Sahabat’ tersebut menelusuri kisah sejumlah ‘orang biasa’ setelah satu dekade reformasi berlalu. Ia bertutur melalui foto-foto mereka saat sedang berada dalam beragam kegiatan saat Mei 1998.

Ariani Darmawan, lulusan School of the Art Institute of Chicago dengan latar belakang arsitektur dan seni murni ini banyak menyoroti tentang arti sebuah nama. Identitas Ariani yang keturunan Cina memberi cara pandang lain terhadap makna sebuah nama Cina. Dahulu presiden Suharto mengeluarkan Keppres nomor 127/U/Kep/1996 yang mewajibkan WNI etnis Cina untuk mengadopsi nama bernada Indonesia, misalnya Liem menjadi Halim dan Lo, Loe atau Liok menjadi Lukito. Ariani yang banyak berpartisipasi di dalam sejumlah festival seni maupun film di Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan Australia tersebut memberikan film kocak namun penuh kontradiksi. Lewat film “Sugiharti Halim”, Ariani menceritakan perlukah seseorang memakai nama ‘asli’, bisa ‘dijual’ serta menyamarkan identitas di balik sebuah nama.

Masih dengan nada ‘Cina’, Lucky Kuswandi mengajak penonton dengan tradisi imlek yang sempat dilarang di Indonesia. Dengan gaya bercerita dialog tanpa banyak gambar, Lucky yang sudah memutar film-film pendeknya di sekitar 30 film festival di manca negara seperti 59th Cannes Film Festival (Short Film Corner) dan 32nd Seattle International Film Festival tersebut banyak mengingatkan tentang perjalanan personal keunikan tradisi imlek baik jeruk mandarin, barongsai serta ìtanggal merahî yang selama ini dinantikan. Film ìA Letter of Unprotected Memoriesî ini membidik Imlek yang sempat 33 tahun dilarang oleh pemerintah dan hingga kini malah menjadi salah satu hari libur nasional.

Ucu Agustin, lulusan IAIN Jakarta yang saat ini mengelola sebuah komunitas audio visual “GambarBergerak” menjadi salah satu pembuat film yang langsung bersinggungan dengan keluarga korban tragedi Mei 1998. Film “Yang Belum Usai” banyak mengangkat tentang kesibukan keluarga Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya yang tewas dalam penembakan tragedy Semanggi Mei 1998. Ucu berhasil menangkap perjuangan Ibu Sri Sumarsih, ibunda Wawan yang hingga saat ini terus menuntut keadilan dan terus bertekad melanjutkan perjuangan putranya demi supremasi hukum di negeri ini. Bahkan tanpa diduga, Arif Triadi, ayah Wawan sempat menyaksikan film tersebut.

Selain itu, masih ada Wisnu Suryapratama dengan “Kucing 9808, Catatan (Mantan) Demonstran”, “Kemarin” karya Otty Widasari, “Huan Chen Guang” dari Ifa Isfansyah, “Bertemu Jen” oleh Hafiz, “Trip To The Wound” garapan Edwin serta “Sekolah Kami, Hidup Kamii” tentang pembongkaran kasus korupsi yang dilakukan oleh pihak sekolah di sebuah SMA di Solo oleh murid-murid kelas tiganya.

Dengan film ini, kita tidak hanya merawat ingatan akan kejadian-kejadian itu, tapi bisa juga menimbang ulang apa yang bisa kita perbuat dalam kerangka gagasan yang serupa,sambut Lisabona Rahman, manajer program Kineforum.

10 Tahun Reformasi dalam Film

Dari: Tabloid Parle

Kalau Anda orang yang gemar menonton film, di Bioskop Kineforum Taman Ismail Marzuki Jakarta, pertengahan bulan Mei ini ada suguhan film menarik. Judulnya; Antologi 10 Tahun Reformasi . Film ini bukan semata-mata hiburan, tetapi film yang digarap khusus untuk mengenang tragedi berdarah Mei 1998. Di samping itu, film ini mengandung kritik sosial yang cukup tajam.

Antologi 10 Tahun Reformasi merupakan kompilasi dari sepuluh film berdurasi pendek yang digarap sejumlah pekerja film dengan berbagai latar belakang. Selain itu, pembuatan film tersebut dilakukan secara swadaya. Kerja sama yang bernama “Proyek Payung” ini disiapkan sejak Oktober tahun lalu. Edwin (Sutradara), Hafiz (Sutradara/ Perupa), Prima Rusdi (Penulis Skenario) membuat arahan besar yang disebarkan ke sejumlah pembuat film. Setiap sutradara diminta membuat film pendek dengan latar belakang peristiwa reformasi Mei 1998. Bioskop Kineforum lantas ditunjuk menjadi tempat pemutaran perdana film dengan tema program “9808”. Selanjutnya, film ini akan diputar di beberapa kota besar seperti Jogjakarta, Semarang, Bandung dan di Malaysia.

Di antara kompilasi film tersebut; Sedang apa saya saat itu? (2008). Film ini bukanlah merupakan film gambar bergerak tetapi hanya berupa tampilan foto-foto, yang digarap oleh Anggun Priambodo. Ia menelusuri berbagai kesaksian “orang biasa” saat terjadinya kerusuhan Mei 98.

Ada juga film berjudul Sugiharti Halim (2008) . Film garapan Ariani Darmawan, dengan pemeran Nadia dan Hengky Hidayat yang menceritakan tentang seorang perempuan keturunan etnis Cina, yang protes pada keadaan karena diberi nama “Sugiharti Halim”. Nama tersebut diberikan orang tuanya, hanya lantaran Keppres nomor 127/U/Kep/12/1966 mewajibkan WNI etnis Cina mengadopsi nama Indonesia. Liem menjadi Halim. Lantaran nama ini juga ia pernah bercekcok dengan petugas imigrasi.

Ada film yang berjudul Trip To The Wound (2007) yang digarap Edwin dengan pemeran Ladya Cherryl. Isi ceritanya, suatu malam, saat menaiki sebuah bus, Shilla berjumpa dengan Carlo. Perbincangan dengan Carlo mengenai bekas luka, yang menurutnya memiliki kisah menarik di belakangnya justru menjadi malapetaka. Sebab Carlo bukannya menceritakan penyebab lukanya tersebut tetapi justru menggeranyangi Shilla.

Film lainnya Bertemu Jen (2008), garapan Sutradara Hafiz. Film ini bercerita tentang seorang pencinta teater, yang terabaikan. Bahkan setelah sepuluh tahun reformasi bergulir ia tak merasakan perubahan apa-apa dalam hidupnya selain perasaan kosong dalam dirinya.

Lain lagi dengan film Huan Chen Guang (2008) yang digarap Ifa Isfansyah. Film ini menceritakan tentang gadis campuran China Indonesia. Ibunya yang warga Indonesia itu meninggal saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Untuk menutup kenangan pahitnya, ia pergi ke Korea meski tak memiliki kerabat di negeri itu.

Film A Letter of Unprotected Memories (2008) garapan Sutradara, Lucky Kuswandi, ercerita pergolakan bathin seseorang warga etnis Cina yang merasa didiskriminasi. Selama 33 tahun, perayaan Imlek dilarang di Indonesia melalui Inpres No. 14/1967, yang baru dicabut melalui Keppres No.6/2000 di masa kepresidenan Gus Dur. Kini, setelah Imlek boleh dirayakan secara besar-besaran ternyata tak mampu mengobati luka hatinya itu.

Ada juga film berjudul Kemarin (2008) karya Otty Widasari. Ini merupakan film yang memotret mantan aktivis yang melihat hidup hanya sebuah proses biasa; masa muda, bersenang-senang, perkawinan dan menjadi orang tua. Tak ada yang istimewa sejak reformasi selain proses kehidupa yang berjalan tersebut.

Film yang cukup membuat kita cukup terharu adalah Yang Belum Usai (2008). Film garapan Ucu Agustin ini merupakan kisah perjuangan Sumarsih, ibu wawan korban tragedi Semanggi I. Sumarsih tak henti menuntut keadilan lewat jalur hukum maupun hingga aksi damai. Ada satu cuplikan, saat ia dan para korban tragedi berdarah di depan istana negara meski diguyur hujan cukup deras ketika itu.

Film yang cukup menggelitik adalah Kucing 9808, Catatan Seorang (Mantan) Demonstran (2008) yang diperankan dan disutradarai oleh Wisnu Suryapratama. Film ini menceritakan pengalamannya sebagai salah satu aktivis KA KBUI (Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI). Dia merupakan koordinator acara Posko KA KBUI yang mengatur jalannya hampir semua aksi demonstrasi KBUI dari awal sampai akhir. Kini, Wisnu telah menjadi bapak, pekerja film freelance, suami dengan segala kesibukan pribadinya, bahkan ikut mengurus anaknya karena istrinya yang DPRD juga sibuk.

Film Sekolah Kami, Hidup Kami ( 2008 ) garapan Steven Pillar Setiabudi merupakan film kritik yang cukup nyelekit . Film ini menceritakan tentang siswa SMU 3 Solo yang menggelar demo karena guru yang korup. Mereka dengan cara yang matang dan sistematis berhasil mengumpulkan sejumlah bukti praktik korupsi yang selama ini berlangsung di sekolah mereka.

Film kompilasi Antologi 10 Tahun Reformasi ini diputar selama 10 hari berturut-turut. Setiap harinya, dua kali pemutaran. Yakni, pukul 17.30 dan 19.30. Dan, yang jelas masyarakat nggak perlu bayar untuk nonton film ini. Gratis. (Anas)

9808: Melawan Lupa

Hai-online
Rabu 14 Mei 2008

Hei, lagi apa kamu waktu tahun 1998? Apa kabar ya para korban pelanggaran HAM? Apa sih efek dari reformasi? 9808, mungkin bisa jadi salah satu jawabannya. Empat dari sepuluh sutaradara 9808 angkat bicara.

Ucu Agustin
“Gue pengen ngasih tau kabar dari ibu salah satu korban Mei 1998. Konsep film gue awalnya, ‘di mana ke mana’. Pada perjalannya gue akhirnya fokus ke ibu Sumarsih. Gue pengen ngasih liat penggalan kenyataan dari penggalan reformasi,” bilang Ucu Agustin, sutradara film pendek Yang Belum Usai.

Anggun Priambodo
“Konsep film gue adalah berbagi cerita. Sedang apa dan di mana lo waktu itu? Jadi gue ngumpulin cerita dari sepuluh orang berbeda tentang kenangan mereka di Mei 1998. Selain punya cerita mereka juga harus punya foto. Waktu itu belum era digital. Jadi banyak yang ceritanya menarik tapi nggak punya fotonya, jadi nggak gue masukin. Dan ini foto-fotonya beragam. Kayak Zeke yang waktu itu lagi di Seatle,” Anggun Priambodo, sutaradara Di Mana saya?

Lucky Kuswandi
“Gue mengangkat tentang nasionalisasi Imlek. Apakah itu cuma public party? Ide awalnya dari situ. Di film ini banyak kritik, tentang orang Chinese-nya dan tentang pemerintah,” Lucky Kuswandi sutradara A Letter of Unprotected Memories.

Edwin
“Bekas luka itu manusiawi. Kalo orang nggak punya bekas luka kayak ada yang kurang. Kayak Shilla cewek ini mengumpulkan erita-cerita di balik bekas luka, tapi dia sendiri nggak punya bekas luka,” Edwi, sutradara Trip To The Wound dan Babi Buta Yang Ingin Terbang. (boim)


 
%d bloggers like this: